Saturday, May 12, 2007

Takut Tua daripada Takut Mati

Lebih Takut Tua daripada Takut Mati

Orang sekarang ternyata lebih takut tua daripada takut mati...Ga percaya?? Banyak tuh buktinya.. Banyak orang membeli kosmetik agar awet muda/terhindar dari penuaan, bahkan ada kosmetik yang terbuat dari emas 24 karat... MasyaAlloh... Manusia zaman sekarang tambah aneh-aneh saja.. Tapi sayang, mereka takut tua tapi tidak takut mati.

Yang dimaksud takut mati bukan takut saat menghadapi kematiannya, karena setiap yang bernyawa pasti akan mati.. Tapi yang dimaksud disini takut terhadap sesuatu yang terjadi setelah kita mati, seperti siksa kubur, adzab akhirat dll. Karena tidak ada yang bisa menjamin kita kalo kita pasti akan mendapatkan kebahagiaan setelah kita mati. Para Nabi saja yang dijamin masuk surga oleh Alloh SWT saja takut terhadap siksa dan Adzab Alloh SWT...!!! Okelah, kalo ada yang bilang “Ya wajar lah.. mereka kan para Nabi...” Ada contoh lagi dari manusia yang bukan Nabi yang patut kita jadikan teladan.. Siapa mereka? Yup.. mereka adalah para sahabat nabi, yang mereka ridlo kepada Alloh dan Alloh pun ridlo kepada mereka (Rodliyalloohu ‘anhu wa rodluu ‘anhu). Para sahabat nabi juga takut kalo kalo mereka mendapat adzab Alloh... Padahal kita tahu, bagaimana keimanan dan kezuhudan mereka.. Lalu bagaimana dengan kita.. yang sholat saja masih semrawut ga karuan.. Masih mending semrawut, kadang malah sering kita lewatkan sholat wajib begitu saja tanpa ada perasaan berdosa...

Intinya, marilah kita perbaiki diri kita, khususnya hati kita.. agar hati kita senantiasa bersih.. Jangan hanya menjaga kebersihan badan saja.. Bersihkan juga keislaman dan keimanan kita... Karena terkadang kita lebih resah dan gelisah kalo jasmani kita sakit.. Tapi kita tidak pernah peduli jika yang sakit itu hati kita... Na’uzhu billaaahi min dzalik..

Thursday, April 19, 2007

IPDN

Obrolan Ibu-Ibu tentang IPDN

Suatu sore di sebuah kampung sekelompok ibu-ibu berkerumun sedang belanja sayur sambil ngobrol seru, nampak wajah mereka sangat serius. Asyik sekali.. pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron. Namun dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal sekali, diam-diam saya mendekat bukan maksud mau nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang sedang dibicarakan.
Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin tayangan berita sebuah stasiun TV tentang kasus penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit petikan pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para "pengamat berita" ini....

" tuh kan apa gue bilang IPDN itu, Institut Penganiayaan Dalam Negeri... ! masak anak orang dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang nggak jelas, dasar gak tau diri !".
" Bukan nyak tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam Negeri..!" sahut ibu penjual sayur tak mau kalah.
"Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu ntar kalo udah jadi pejabat pasti jadi diktator, makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan Diktator Negara..!" seru ibu yang sedari tadi bolak balikin sayur bayam.
" Betul juga jeng Neni tapi saya paling gak suka sama kelakuan mereka yang suka maen keroyok kalo berani
kenapa gak satu lawan satu tuh kayak di pilem koboy makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen
Ngeroyok..!! " seru ibu gendut itu gemas sambil membanting labu siam diantara sayur yang makin
berserakan.
"Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan Praja Doyan Nonjok ...!" sambar bu RT sambil
bersungut-sungut
"IPDN, Injak Pukul Dorong Nah ... mati..!! celetuk ibu bertubuh kerempeng itu sambil praktekkan gaya silatnya.
"Inginnya Pendidikan Dapetnya Nisan nah itulah IPDN. kasihan orang tua yang udah susah payah kirim anaknya
kesana pulang-pulang bikin batu nisan... !!" tukas bu Neni makin kesal.
" Yang kayak gini neh pasti kerjaan para pejabat yang gak punya tanggung jawab dan wawasan kebangsaan,
mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan pengawas tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok
didiemiin aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar budaya pejabat junior harus takut dengan senior tetap hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong kali ya ?
namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana Negara", sahut ibu setengah baya berkerudung itu.
"Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita.. pantas aja korupsi gak habis-habis wong mentalnya aja udah kayak mafia.

Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan menuju kearah
rumah bu RT, sambil iseng saya pun bertanya, "nek kalo menurut nenek IPDN itu apa ?".
Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak, "Ingin Pipis Dulu Nak ...!!".
Ups..!

Sumber: Milis Elektro UNDIP

Deteksi Kanker Mulut Leher Rahim

barangkali berguna buat para ibu, calon ibu, dan yang sayang ibu

Metode Murah untuk Deteksi Kanker Mulut Leher Rahim

Jakarta - Kanker serviks atau mulut leher rahim masih menjadi momok bagi kaum perempuan. Jika tes papsmear terlalu mahal, saat ini ada metode baru untuk mendeteksi dini penyakit ini dengan biaya lebih murah.

Menurut spesialis obstetri dan ginekologi dr Dwiyana Acviyanti, metode baru itu dikenal dengan IVA alias inspeksi visual dengan asam asetat. Dengan metode ini, para perempuan dari berbagai kalangan diharapkan dapat mendeteksi kanker serviks secara dini untuk mengurangi angka kematian.

"Kalau papsmear mungkin masih mahal. Dengan IVA, semua kalangan bisa melakukannya," kata Dwiyana dalam Kampanye Bantu Cegah Kanker di Kafe Kembang Goela, Plasa Sentral, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (18/4/2007).

Dwiyana mengatakan, metode baru ini menggunakan media asam asetat. Para perempuan bisa datang ke dokter kandungan, kemudian dokter akan menyemprotkan asam asetat ke bagian leher rahim (epitel).

"Jika di bagian leher rahim yang tadinya berwarna merah muda berubah menjadi putih, dalam jangka waktu 5-10 tahun, itu kemungkinan akan menjadi prakanker," ujar Dwiyana.

Jika gejala itu ditemukan, maka dokter akan melakukan pembekuan terhadap kulit tersebut sehingga tidak menjadi kanker. "90 Persen tidak akan jadi kanker," tandasnya.

Sumber: detikcom – IVA (milis EE UNDIP)

Friday, March 23, 2007

SutroH...

Awas, Setan Lewat di Depanmu !

Acapkali kita lihat seseorang dengan santai berlalu-lalang di depan orang yang sedang sholat tanpa merasa risih, padahal perbuatan sembrono ini bisa mengurangi pahala sholat orang lain atau bahkan sampai membatalkannya. Imam Adz Dzahabi telah memasukkah perbuatan tersebut sebagai perbuatan dosa besar sebagaimana dalam kitab Al Kabaair, begitupula para ulama lain juga menyatakan demikian. Kesalahan ini diperparah dengan sholatnya seorang tanpa menghadap tabir pembatas (baca : sutroh) di depannya, sehingga orang lain merasa leluasa berlalu lalang sementara ia sendiri juga tidak berusaha menghalangi.

Perintah Nabi agar Sholat Menghadap Sutroh dan Mendekat Kepadanya

Ketahuilah, disyariatkannya sholat menghadap pembatas/sutroh telah ditegaskan oleh perintah Rosululloh dalam banyak hadits dan perbuatan beliau. Bahkan banyak dari kalangan ulama yang menyatakan wajibnya mengambil sutroh. Rosululloh bersabda, Janganlah kalian sholat kecuali menghadap sutroh, dan jangan biarkan seorangpun lewat di depanmu, jika dia enggan maka tolaklah dengan lebih keras, karena syaithon bersamanya” (HR Muslim, Ibnu Khuzaimah) dalam riwayat lain, “…karena sesungguhnya dia itu adalah syaithon (HR. Bukhori, Muslim). Perintah tersebut berlaku baik seseorang takut akan ada yang lewat di depannya atau tidak, di manapun ia berada. Dan hukum ini ditujukan untuk orang yang sholat sendirian dan bagi imam. Adapun makmum tidak disyari’atkan mengambil sutroh dan sutrohnya adalah sutroh imam.

Sutroh dapat berupa dinding, tiang, tongkat, punggung orang atau sejenisnya yang dapat menjadi pembatas sholatnya. Adapun tingginya telah Rosululloh jelaskan, Setinggi pelana (sekitar 2/3 hasta) (HR. Muslim). Namun apabila lebih tinggi dari itu, maka lebih baik. Sebab dengan demikian akan lebih menutup pandangannya sehingga mudah menghadirkan hati serta mencegah dari batalnya sholat atau kekurangsempurnaan.

Haromnya Lewat di Depan Orang Sholat

Perhatikanlah, jika engkau telah sholat menghadap sutroh, maka mendekatlah sehingga tempat sujudmu tepat sebelum sutroh dan jangan biarkan siapapun lewat di depanmu. Adapun yang berada di luar sutroh maka tidak ada hak bagimu untuk menghalanginya. Dan hendaklah orang yang lewat di depan orang yang sholat takut akan dosa yang diperbuatnya. Camkan baik-baik sabda Rosululloh, Seandainya seseorang tahu dosanya lewat di depan orang sholat, maka lebih baik baginya berhenti selama 40 (tahun)”. (HR Bukhori, Muslim) Bahkan jika seseorang tidak bersutroh tetap saja harom lewat di depannya sampai batas tempat sujudnya, karena haknya tidak lebih dari tempat yang ia butuhkan untuk sholatnya. Dan bila engkau telah berusaha menghalangi, sementara ia bersikeras dan berhasil lewat, maka ia mendapat dosa dan sholatmu tidak berkurang kesempurnaannya.

Bolehnya lewat di depan shof makmum

Dalam sholat berjama’ah, yang menjadi sutroh makmum adalah sutroh imam, sehingga yang terlarang ialah lewat di depan imam. Hal ini didasari oleh perbuatan Ibnu Abbas ketika beliau menginjak usia baligh. Beliau pernah lewat di sela-sela shof jamaa’ah yang diimami oleh Rosululloh dengan menunggangi keledai betina, lalu turun melepaskan keledai baru kemudian bergabung dalam shof. Dan tidak ada seorangpun yang mengingkari perbuatan tersebut (Riwayat Bukhori Muslim). Namun demikian, bila seseorang mendapatkan jalan lain agar tidak lewat di depan shof makmum maka ini lebih baik, sebab perbuatan tersebut jelas akan mengusik konsentrasi.

Batalnya sholat seseorang bila dilewati tiga makhluk

Ketahuiah, lewat di depan orang sholat dapat mengurangi pahala sholat atau bahkan dapat membatalkannya. Rosululloh bersabda, Membatalkan sholat (lewatnya) anjing hitam, dan wanita baligh(HR. Ahmad, An Nasa’i) Dan dalam riwayat Muslim disebutkan juga keledai. Ibnu Mas’ud berkata bahwa orang yang lewat di depan orang sholat (selain tiga jenis tadi) bisa mengurangi pahala orang yang dilewatinya (Riwayat Ath Thobroni, Ibnu Abi Syaibah).

Saudaraku, jangan sampai tiga makhluk tadi lewat di depanmu saat sholat sehingga sholatmu batal, dan halangilah setiap orang yang hendak lewat untuk memberikan peringatan bagi orang yang melampaui batas tersebut agar lebih berhati-hati ! Wallohu a’lam.

(Disarikan oleh Johan Abu Yusuf dari kitab Asy Syarhul Mumti’ karya Syaikh Utsaimin, Al Wajiz karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawi dan Al Qoulul Mubin Fii Akhtho’il Mushollin karya Syaikh Masyhur Hasan Salman).

Ghibah / Ngrasani / Menggunjing

Ghibah (Ngrasani / menggunjing)

Ghibah (menggunjing/ngerasani) adalah dosa besar yang tersebar dan banyak dilakukan oleh manusia. Padahal Alloh telah memisalkan orang yang melakukannya sebagai orang yang memakan bangkai daging saudaranya, dalam firman-Nya "Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya" (Al Hujurat : 12). Ghibah adalah membicarakan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut dengan sesuatu yang tidak disenanginya bila ia mengetahuinya, baik itu kekurangan yang ada pada badan, nasab, tabiat, ucapan maupun agama hingga pada pakaian, rumah atau harta miliknya yang lain. Contohnya seperti mengatakan ia pendek, hitam, kurus dan lain sebagainya. Atau dalam agamanya seperti mengatakan ia pembohong, fasik, munafik dan lain-lain.

Kadang orang tidak sadar ia telah melakukan ghibah, dan saat diperingatkan ia menjawab, "Yang kukatakan ini benar adanya!", padahal perbuatan tersebut jelas ghibah. Ketika Rosululloh ditanya bagaimana bila yang disebut-sebut itu memang benar adanya pada orang yang sedang digunjingkan, beliau menjawab, "Jika yang engkau gunjingkan benar adanya pada orang tersebut, maka engkau telah melakukan ghibah, dan jika yang engkau sebut tidak ada pada orang yang engkau sebut, maka engkau telah melakukan dusta atasnya." (HR. Muslim)

Ghibah tidak terbatas dengan lisan saja, namun juga bisa dengan tulisan atau isyarat seperti kerdipan mata, gerakan tangan, cibiran bibir dan sebagainya yang intinya adalah memberitahukan kekurangan seseorang kepada orang lain. Suatu ketika ada seorang wanita datang kepada 'Aisyah Rodhiyallohu 'Anha. Ketika wanita itu sudah pergi, 'Aisyah mengisyaratkan dengan tangannya yang menunjukkan bahwa wanita itu berbadan pendek. Rosululloh lantas bersabda, "Engkau telah melakukan ghibah!". Contoh lainnya seperti gerakan memperagakan gerak orang lain seperti cara jalan, cara berbicara dan lain-lain. Bahkan demikian ini lebih parah daripada ghibah, karena mengandung unsur memberitahu kekurangan orang dan mengandung tujuan mengejek atau meremehkan. Tak kalah meluasnya adalah ghibah dengan tulisan, karena tulisan adalah lisan kedua. Media massa sudah tidak segan dan malu-malu lagi membuka aib seseorang yang paling rahasia sekalipun. Yang terjadi kemudian, sensor perasaan malu masyarakat menurun sampai pada tingkat yang paling rendah. Aib tidak lagi dirasakan sebagai aib yang seharusnya ditutupi, perbuatan dosa menjadi makanan sehari-hari.

Macam dan Bentuk Ghibah

Ghibah mempunyai berbagai macam dan bentuk, yang paling buruk adalah ghibah yang disertai dengan riya' seperti mengatakan, "Saya berlindung kepada Alloh dari perbuatan yang tidak tahu malu semacam ini, semoga Alloh menjagaku dari perbuatan itu." padahal maksudnya mengungkapkan ketidaksenangannya kepada orang lain, namun ia menggunakan ungkapan doa untuk mengutarakan maksudnya. Kadang orang melakukan ghibah dengan cara pujian, seperti mengatakan, "Betapa baik orang itu, tidak pernah meninggalkan kewajibannya, namun sayang ia mempunyai perangai seperti yang banyak kita miliki, kurang sabar." Ia menyebut juga dirinya dengan maksud mencela orang lain dan mengisyaratkan dirinya termasuk golongan orang-orang sholeh yang selalu menjaga diri dari ghibah. Bentuk ghibah yang lain misalnya mengucapkan: "Saya kasihan terhadap teman kita yang selalu diremehkan ini. Saya berdoa kepada Alloh agar dia tidak lagi diremehkan." Ucapan semacam ini bukanlah doa, karena jika ia menginginkan doa untuknya, tentu ia akan mendoakannya dalam kesendiriannya dan tidak mengutarakannya semacam itu. Bentuk ghibah lainnya yaitu perkataan-perkataan yang memiliki unsur perendahan seperti perkataan "Ayahnya seorang petani" atau mengenai akhlak semisal perkataan "Dia sombong" atau mengenai fisik seperti "Badannya gemuk".

Taubat dari Ghibah

Pada dasarnya orang yang melakukan ghibah telah melakukan dua kejahatan; kejahatan terhadap Alloh Ta'ala karena melakukan perbuatan yang jelas dilarang oleh-Nya dan kejahatan terhadap hak manusia. Maka langkah pertama yang harus diambil untuk menghindari maksiat ini adalah dengan taubat yang mencakup tiga syaratnya, yaitu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, menyesali perbuatan yang telah dilakukan dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Selanjutnya, harus diikuti dengan langkah kedua untuk menebus kejahatannya atas hak manusia, yaitu dengan mendatangi orang yang digunjingkannya kemudian minta maaf atas perbuatannya dan menunjukkan penyesalannya. Ini dilakukan bila orang yang dibicarakannya mengetahui bahwa ia telah dibicarakan. Namun apabila ia belum mengetahuinya, maka bagi yang melakukan ghibah atasnya hendaknya mendoakannya dengan kebaikan dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya. [Buletin At Tauhid, oleh: Abu Uzair Boris]